Rabu, 14 Desember 2016

MBAH DIMYATI BLITAR

MBAH DIMYATI BLITAR
Di sebuah dusun di Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar, tepatnya di Dusun Kasim, Desa Ploso, terdapat sebuah makam auliya yang banyak dikunjungi peziarah. Makam tersebut adalah Makam KH Dimyati dan Ayahnya, KH Hasbullah. Letaknya 25 km dari pusat Kota Blitar ke arah timur.
Makam ini setiap hari tidak pernah sepi dari para peziarah. Pada umumnya mereka berziarah untuk bertawasul agar permohonannya dikabulkan oleh Allah SWT, baik hajat dunia maupun akhirat. Menurut keterangan penjaga makam, Bapak Zaenal Abidin, rata-rata peziarah pada hari-hari biasa berkisar antara 25-50 orang. Sedangkan pada hari-hari tertentu peziarah bisa mencapai ribuan pengunjung, seperti pada malam Jumat Pahing dan haul Almarhum.

Kompleks pemakaman ini dilengkapi fasilitas bagi peziarah. Antara lain musholla, ruang istirahat, tempat penginapan, MCK, penerangan listrik, dan tempat parkir yang mampu menampung kurang lebih 100 kendaraan roda empat. Bagi yang ingin tinggal beberapa hari, disediakan dapur tempat memasak.
Asyrakal BadruKH Dimyati lahir di Dusun Baran Desa Ploso Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar pada Jumat Pahing tahun 1921 M. Beliau adalah putra dari pasangan KH.Hasbulloh dan Ny.Hj.Maryam . Semasa mudanya Mbah Dim berguru di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri selama 11 tahun .Beliau menikah dengan Ibu Rufi’ah dan dikaruniai seorang anak bernama Mahfud. Setelah bercerai beliau menikah lagi dengan Ibu Muawanah. Dengan istri kedua Beliau dikaruniai 4 orang anak bernama Lailatul Badriah, Ngatiqullah,Ummi Mukharomah, dan Baron.
Mbah Dim, begitu masyarakat memanggilnya. Beliau dikenal masyarakat sebagai Waliyullah yang doa-doanya mustajab. Hidup beliau didarmabaktikan untuk melayani masyarakat tanpa pandang bulu. Semasa menjadi Kyai di Baran, banyak tamu berdatangan setiap hari dari berbagai daerah untuk memohon didoakan agar hajatnya dikabulkan oleh Allah SWT. Berkah karamah Mbah Dim, tamu yang berwasilah kepada Beliau, cepat atau lambat, pada umumnya terkabul dengan izin Allah SWT. Mbah Dim sangat dicintai masyarakat karena sifatnya yang ramah , suka memberi, tidak pandang status, zuhud, tawakal dan ikhlas.
Mbah Dim wafat pada malam Jumat Paing, Jumadal Ula tahun 1409 H. dan dimakamkan di Dusun Kasim, Kecamatan Selopuro, Blitar. Setelah Mbah Dim Wafat, makamnya banyak didatangi peziarah. Untuk menambah khidmat para pecinta, di komplek pemakaman ini digelar beberapa acara rutin. Di antaranya adalah setiap Kamis Legi pagi diadakan semaan Al-Qur’an, setiap malam Jumat Pahing acara pengajian umum, dan setiap Sabtu Pon diadakan doa arwah (pida-an) . Dengan diadakannya acara tersebut dapat membiasakan warga sekitar maupun masyarakat luas untuk gemar menyemak, membaca bahkan menghafalkan Al Quran. Di samping itu acara tersebut diharapkan dapat memberi motivasi dan pedoman untuk menuju hidup yang lebih baik (Tim Spensi)*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar